Bimbingan Sakaratul Maut bagi klien muslim

Bimbingan sakaratul maut bagi klien muslim

2:19

Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir.(al-baqarah 19)

 

Perawat sangat dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan spiritual klien. Seperti ketetapan WHO (1984)  yang menyatakan bahwa aspek agama ( spiritual ) merupakan salah satu unsur dari pengertian kesehataan seutuhnya . untuk itu perawat perperan penting bagi terpenuhinya kebutuhan spiritual klien salah satunya adalah saat klien menghadapi sakaratul maut.

Sakaratul maut atau dyingadalah detik-detik akan berpisahnya roh dari tubuh seseorang sehingga disebut dengan mati. Maksud sakaratul maut adalah kedahsyatan, tekanan, dan himpitan kekuatan kematian yang mengalahkan manusia dan menguasai akal sehatnya.

Sedangkan Kematian merupakan kondisi terhentinya pernapasan, nadi, dan tekanan darah serta hilangnya respons terhadap stimulus eksternal, ditandai dengan terhentinya aktivitas otak atau terhentinya fungsi jantung dan paru secara menetap.

Ada beberapa hal yang sangat dibutuhkan seseorang dalam proses dying  ini, salah satunya adalah pendampingan. Didetik-detik akhir kehidupannya, seseorang sangat butuh akan kehadiran keluarga atau  orang-orang terdekat untuk menemaninya. Disanalah perawat berperan, perawat harus bisa menuntun pasien mati dalam keadaan damai.

Hal-hal yang harus diperhatikan perawat saat membimbing klien muslim dalam keadaan diyng atau sakaratul maut:

  1. Membasahi kerongkongan orang yang sedang sakaratul maut.

Disunnahkan bagi orang-orang yang hadir untuk membasahi kerongkongan orang yang sedang sakaratul maut tersebut dengan air atau minuman. Kemudian disunnahkan juga untuk membasahi bibirnya dengan kapas yg telah diberi air. Karena bisa saja kerongkongannya kering karena rasa sakit yang menderanya, sehingga sulit untuk berbicara dan berkata-kata. Dengan air dan kapas tersebut setidaknya dapat meredam rasa sakit yang dialami orang yang mengalami sakaratul maut, sehingga hal itu dapat mempermudah dirinya dalam mengucapkan dua kalimat syahadat. (Al-Mughni : 2/450 milik Ibnu Qudamah)

2. Menuntun dengan kalimat syahadat

Sebagai orang yang beriman, kita sangat mendambakan mati dalam keadaan khusnul khotimah. Begitupun pasien-pasien yang dalam kondisi terminal. Untuk itulah perlunya pendampingan perawat untuk menuntun pasien melafalkan kalimat syahadat itu yang bunyinya.

laailaaha illallah muhammadarrasullullah”

Sehingga dengan lafal syahadat itu klien muslim meninggal dalam keadaan husnul khotimah.

Seperti sebuah hadis rosul yang mengatakan:

“Talkinkanlah olehmu orang yang mati diantara kami dengan kalimat Laailahaillallah karena sesungguhnya seseoranng yang mengakhiri ucapannya dengan itu ketika matinya maka itulah bekalnya sesungguhnya seseorang yang mengakhiri ucapannya dengan itu ketika matinya maka itulah bekalnya menuju surga”.(H.R Muslim)

3. Hendaklah mendo’akannya dan jangan mengucapkan kata-kata yang tidak baik sdihadapannya.

Berdasarkan hadits yang diberitakan oleh Ummu Salamah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda. Artinya :

“Apabila kalian mendatangi orang yang sedang sakit atau orang yang hampir mati, maka hendaklah kalian mengucapkan perkataan yang baik-baik karena para malaikat mengamini apa yang kalian ucapkan.”

Maka perawat harus berupaya memberikan suport mental agar pasien merasa yakin bahwa Allah Maha Pengasih dan selalu memberikan yang terbaik buat hambanya, perawat harusberkomunikasi terapeutik yang baik,  mendoakan dan menutupkan kedua matanya yang terbuka saat roh terlepas dari jasadnya.

4. Mengajarkan pasien agar berbaik sangka kepada Allah

Seringkali pasien dengan penyakit yang dideritanya merasa terpukul, marah dan tidak terima dirinya mengalami hal itu. Untuk itu agar pasien meninggal dalam keadaan hulnul khotimah, hendaklah perawat membimbing pasien untuk selalu berbaik sangka kepada Allah. Parawat harus mampu memberikan pengertian kepada pasien bahwa penyakit, umur dan lain-lain telah diatur oleh Allah sebaik-baiknya. Pasien harus mampu berbaik sangka kepada Allah, selalu bersyukur dan meyakini bahwa apapun keputusan Allah adalah yang terbaik baginya dan keluarganya.

5. Menghadapkannya kearah kiblat

Disunahkan menghadapkan pasien kearah kiblat dengan cara tidur telentang dan kaki menghadap kearah kiblat. Posisi kepala pasien agak sedikit ditinggikan sehingga dia menghadapkan wajahnya kearah kiblat. Kemudian mengarahkan bagian kanan tubuh orang yang tengah sakaratul maut menghadap ke kiblat.

Cara diatas hukumnya tidaklah wajib, jika pasien mengalami penyakit yang tidak memungkinkan dia untuk berubah posisi seperti yang disunahkan, biarkan saja pada posisi yang nyaman baginya dan tidak menyulitkan.

referensi:

al-qur’an surah al-baqarah (19)

AsyDharma. 2004. Tuntunan Pengurusan Jenazah. jakarta : insani

Ash_shaf media. Tegal, 2007 Al_ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan, “Kematian adalah kepastian,apa yang sudah engkau siapkan?”, Asy_Syariah, vol.V/No.51/1430 H/2009

Potter dan Perry. 2002. Fundamental Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika

http://keperawatanreligionmentariwardani.wordpress.com